Hari senin (31 Juli 2006) diawali dengan semangat yang cukup besar untuk melakukan aktifitas rutin, alias ngantor. Berangkat awal sudah diniatin, jam setengah 6. Sudah pukul 5.45 masih belum berangkat dari rumah. Alasannya : di luar masih gelap. Jam 6, masih juga belum berangkat. Alasannya : ada benda yang ga ketemu, jadi nyari dulu. Sudah jam 6 lewat 15 menit, benda yang dicari masih belum ketemu. Mulai panik. Keputusan di ambil: bendanya dicari nanti saja lalu pergi ke kantor. Ga lama setelah naik mikrolet, timbul niat untuk membaca buku. Ngubek-ngubek tas, sampe sempat ngeluarin isinya di kursi penumpang (untung saja penumpangnya baru 3 orang, termasuk mela), buku yang dicari ga ketemu..kayaknya ketinggalan. Kening berkerut, oke…2 hal yang diinginkan ga terjadi..life goes on.
Menaiki mikrolet M11 untuk ke slipi itu sudah harus siap dengan resikonya, terutama ketika melewati Syahdan, rawa belong dan palmerah. Apa itu? MACETTTTT (Jakarta gitu lho). Sudah jam 7.10 mikrolet masih terjebak di palmerah. Mau sampe di kantor jam berapa??? Sesal mulai muncul karena ga berangkat lebih awal, semangat mulai ngendor…but, life goes on.
Waktu udah jam 7.35 ketika sudah sampe slipi. Sekarang waktunya mencari bis ke pancoran. Karena biasa naik 46, jadilah menunggu bis “kesayangan” itu muncul. Semenit, 3 menit, 5 menit..koq gak muncul-muncul yah. Padahal bis itu termasuk banyak unitnya. Udah jam 7.45..Panic mode : ON..apa naik taksi atau masih bertahan nunggu 46 lewat yah. Kalau diperhatikan, P6 banyak banget yang lewat yak. Dan 5 menit lewat, 46 masih ga muncul juga. Pas ada P6 lewat dan kenek-nya teriak-teriak menyebut wilayah yang akan dilewati dan Pancoran termasuk di dalamnya, langsung aja naik. Daripada telat…and life continues.
Delapan kurang lima, tiba di pancoran. Masih ga ada tanda-tanda 46 (yang belakangan diketahui, pada mogok beroperasi). Dan alhamdulillah, jam 8.02 sudah sampe di kantor. Sedihnya tiba telat dari biasanya (biasanya 7.30 atau 7.15) karena ada kegiatan-kegiatan rutin yang ga bisa dilakukan..but still, life goes on.
Waktunya pulang. Agak gerimis…dan tidak bawa payung. Berbekal jaket dan keberanian (sempat takut kehujanan, apalagi sudah malam, jam 8 kurang) jalan pulang ditempuh. 46 masih ga kelihatan, alhamdulillah dapat P6 yang ke slipi. Di tengah-tengah perjalanan ke slipi, hujan jadi lebat……turun di slipi atau di slipi jaya? Slipi atau slipi jaya..slipi atau slipi jaya…slipi atau slipi jaya..dan kaki pun melangkah keluar dari bis ketika sudah sampai slipi..yang lagi-lagi disesali karena tidak ada tempat berteduh (dituruninnya ga di halte, tapi di pos polisi, yang pintu posnya dikunci dan atapnya tidak bisa dijadikan pelindung yang layak dari hujan). Jadilah basah..nyaris basah kuyup. Nunggu 5 menit di luar pos polisi dengan membelakangi jalan, kayaknya hujan ga ada tanda-tanda berhenti. Ada ojeg payung, berarti bisa diantarin ke m11. Waktu udah setngah 9, kalo naik M11…mau sampe jam berapa ya di rumah?…mau naik taksi?…tik-tok-tik-tok..kemudian memutari pos polisi untuk menghadap ke jalan raya lagi (yang berarti kena hujan lagi). Ada taksi lewat, kosong (alhamdulillah), langsung menyetopnya, masuk, bilang sama supir, “Meruya, Pak!” dan taksi meluncur ke rumah…life goes on.
Sampe di rumah, capek dan ngantuk menguasai diri. Setelah memaksakan diri untuk tidak langsung rebah ke tempat tidur: membersihkan diri, sholat, ngobrol bentar dengan keluarga, lalu yang sangat amat dinantikan: tidur! (ga makan, soalnya udah makan di kantor)…and life goes on.